Makalah
Biokimia
BIOENERGENETIKA
: PERANAN ATP
Pembimbing
:
dr.
Sudarno, M.Kes
Disusun oleh
:
Nama : Nuris Sa’adah Khoir
NIM : 011511233022
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN BIDAN
FAKULTAS
KEDOKTERAN
UNIVERSITAS
AIRLANGGA
SURABAYA
2016
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahiim...
Dengan mengucapkan syukur kehadirat
illahi rabbi, yang telah memberikan cinta dan hidayah-nya, sehingga penulis
dapat menyusun dan menyelesaikan makalah yang berjudul “Bioenergetika : Peranan
ATP ” dengan sebaik - baiknya. Makalah ini diajukan untuk memenuhi
salah satu syarat tugas matakuliah Biokimia. Makalah ini ditulis dari hasil
penyusunan yang penulis peroleh dari infomasi beberapa buku dan media massa
yang berhubungan dengan bioenergetika yaitu Peranan ATP.
Dalam penyusunan makalah ini,
penulis mengucapkan terima kasih kepada
1.
Tuhan Yang Maha Esa
2. dr.
Sudarno, M.Kes dan staf Dosen Departemen
Biokimia sebagai
pembimbing matakuliah Biokimia
3.
Orang tua yang memberi dukungan
moriil maupun materiil
4.
Dan teman-teman sekalian
Penulis menyadari dengan penuh
kerendahan hati, bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, maka dari itu
penulis mengharapkan kritik dan sarannya dari para pembaca yang budiman, demi
kebaikan/kesempurnaan dimasa yang akan datang. Semoga makalah ini ada faedah
untuk pembaca budiman umumnya dan penulis khususnya.
Surabaya, 2 Agustus 2016
Penulis
DAFTAR ISI
Kata Pengantar................................................................................................. i
Daftar Isi.......................................................................................................... ii
BAB I :
Pendahuluan....................................................................................... 1
1.1 Latar
Belakang Masalah....................................................................... 1
1.2 Rumusan
Masalah................................................................................. 1
1.3 Tujuan
Penelitian.................................................................................. 1
1.4 Manfaat
Penelitian................................................................................ 1
BAB II : Hasil
Dan Pembahasan...................................................................... 2
2.1 Penyakit
Trofoblas................................................................................ 2
2.2 Koriokarsinoma.................................................................................... 3
BAB III :
Penutup............................................................................................ 15
3.1
Kesimpulan.......................................................................................... 15
3.2
Saran.................................................................................................... 15
Daftar Pustaka................................................................................................. 16
Lampiran.......................................................................................................... 17
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
LATAR
BELAKANG
Dalam ilmu Biokimia, bioenergetika menjadi salah satu pengetahuan yang
wajib dipelajari. Bioenergetika juga dapat disebut thermodinamika yaitu
perubahan energi dengan melibatkan reaksi kimia. Mulai dari SMA sampai duduk di bangku
kuliah, bioenergetika wajib dipelajari namun berbeda tingkat kesulitannya pada
tiap jenjang pendidikan. Bioenergetika atau thermodinamika merupakan bagian dari ilmu biokimia yang mempelajari tentang transformasi
(perpindahan) dan penggunaan energi.
Aktivitas manusia dalam kehidupan sehari-hari selalu melibatkan proses
metabolisme. Metabolisme menjadi bagian yang sangat penting pula dalam
kehidupan. Dengan bantuan energi melalui berbagai macam reaksi kimia akan
menghasilkan proses metabolisme yang terjadi di dalam tubuh. Jadi, Bioenergetika, atau
termodinamika biokimia, adalah ilmu pengetahuan tentang perubahan energi yang
menyertai reaksi biokimia. Ilmu ini menyediakan prinsip dasar untuk menjelaskan
mengapa sebagian reaksi dapat terjadi sedangkan sebagian yang lain tidak.
Sistem nonbiologik dapat menggunakan energi panas untuk melangsungkan kerjanya,
tetapi sistem biologik pada hakekatnya bersifat isotermik dan menggunakan
energi kimia untuk memberikan tenaga bagi proses kehidupan.
1.2
RUMUSAN
MASALAH
1.
Apa pengertian dari
ATP?
2.
Bagaimanakah peranan ATP didalam tubuh?
1.3
TUJUAN
PENELITIAN
1.
Untuk mengetahui pengertian ATP.
2.
Untuk mengetahui peranan ATP didalam tubuh.
1.4
MANFAAT
PENELITIAN
Memberi
informasi kepada pembaca mengenai bioenergetika khususnya peranan ATP dalam
tubuh.
BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN
2.1
PENGERTIAN
ATP
ATP adalah Singkatan untuk Adenosin Trifosfat dengan rumus empiris: C10H16N5O13P3.
ATP merupakan Suatu senyawa organik yang terdiri dari adenosin (cincin adenin
dan gula ribosa) dan tiga gugus fosfat, dari sana ATP mendapat namanya. ATP
adalah nukleotida yang mengandung sejumlah besar energi kimia yang tersimpan
dalam ikatan fosfat berenergi tinggi. ATP melepaskan energi ketika dipecah
(dihidrolisis) menjadi ADP (atau Adenosin difosfat ). Energi yang digunakan
untuk banyak proses metabolisme. Oleh karena itu, ATP dianggap sebagai mata
uang energi universal untuk metabolisme.ATP dihasilkan melalui respirasi
seluler dalam mitokondria dan fotosintesis pada kloroplas.
2.2 PERANAN ATP
Peranan ATP sebagai sumber energi untuk metabolisme didalam sel berlangsung
dengan suatu mekanisme mendaur. ATP berperan sebagai alat angkut energi
kimia dalam suatu reaksi katabolisme keberbagai proses reaksi dalam sel yang
membutuhkan energi seperti proses biosintesis, proses pengangkutan, proses
kontraksi otot, proses pengaliran listrik dalam saraf, dan proses pemancaran
sinar (bioluminesensi) yang terjadi pada organism tertentu seperti
kunang-kunang.
ATP terbentuk dari ADP dan Pi dengan suatu reaksi fosforilasi yang
dirangkaikan dengan proses oksidasi molekul penghasil energi. Selanjutnya ATP
yang terbentuk ini dialirkan keproses reaksi yang membutuhkan energi dan
dihidrolisis menjadi ADP dan fosfat anorganik (Pi). Demikian seterusnya
sehingga terjadilah suatu mekanisme daur ATP-ADP secara kontinu dan
berkesinambungan.
2.2.1 KEPENTINGAN BIOMEDIS
Untuk
memberikan energi yang memungkinkan hewan melaksanakan berbagai proses normal
dalam tubuhnya, diperlukan bahan bakar yang sesuai. Bagaimana organisme memperoleh energi ini
dari makanannya sangat penting untuk memahami gizi/ nutrisi dan metabolisme
yang normal. Kematian akibat kelaparan (starvasi) terjadi kalau cadangan energi
yang tersedia habis terpakai, dan bentuk-bentuk malnutrisi tertentu disertai
dengan gangguan keseimbangan energi (marasmus). Kecepatan pelepasan energi yang
diukur lewat kecepatan metabolisme dikendalikan oleh hormon tiroid, yang
gangguan fungsinya merupakan penyebab penyakit. Penyimpanan surplus energi secara berlebihan akan mengakibatkan
obesitas, salah sayu diantara sejumlah penyakit yang paling umum ditemukan pada
masyarakat Barat.
2.2.2 ENERGI BEBAS MERUPAKAN ENERGI
YANG BERGUNA DALAM SISTEM
Perubahan
gibbs pada energi bebas (∆G) adalah bagian berupa perubahan energi total
didalam sistem, yang tersedia untuk melakukan pekerjaan yaitu , energi berguna
yang juga dikenal dalam berbagai sistem kimia sebagai potensial kimia.
Sistem biologik terselenggara
dengan mengikuti kaidah umum termodinamika
Kaidah
pertama dalam termodinamika menyatakan bahwa energi total sebuah sistem,
termasuk energi sekitarnya , adalah konstan. Kaidah ini merupakan hukum
penyimpanan energi. Ini berarti bahwa dalam keseluruhan sistem tersebut tidak
ada energi yang hilang ataupun yang diperoleh saat terjadi perubahan. Meskipun
demikian . energi dalam keseluruhan sistem tersebut dapat dialihkan dari satu
bagian ke bagian lain atau dapat ditransformasikan menjadi bentuk energi yang
lain. Sebagai contoh, energi kimia dapat ditransformasikan menjadi energi
panas, listrik, pncaran, atau mekanis.
Kaidah
kedua dalam termodinamika menyatakan bahwa entropi total sebuah sistem harus
meningkat bila proses ingin berlangsung
spontan. Entropi berarti derajat
ketidakteraturan atau keteracakan
sistem, dan enteropi akan mencapai taraf maksimal didalam sistem seiring sistem
mendekati keadaan seimbang yang sejati. Dalam kondisi suhu dan tekanan yang
konstan, hubungan antara perubahan energi bebas (∆G) pada sebuah sistem yang
bereaksi, dengan perubahan enteropi (∆S), diungkapkan lewat persamaan yang
menggabungkan 2 kaidah termodinamika :
Dengan
∆H sebagai perubahan entalpi (panas) dan T suhu absolut.
Dibawah
kondisi reaksi biokimia, mengingat ∆H kurang lebih sama dengan ∆E, perubahan
total energi internal didalam reaksi, hubungan diatas diungkapkan dengan
persamaan berikut ini :
Jika
∆G memiliki tanda negatif, reaksi berlangsung spontan dengan kehilangan energi
bebas; dengan kata lain, reaksi ini bersifat eksergonik. Di samping itu, bila
∆G sangat besar, reaksi ini bersifat eksergonik. Di samping itu, bila ∆G sangat
besar, reaksi benar- benar berlangsung sampai selesai dan pada hakekatnya tidak
bisa membalik kembali (ireversible). Sebaliknya, jika ∆G positif, reaksi
berlangsung hanya kalau dapat diperoleh energi bebas; dengan kata lain, reaksi
ini bersifat endergonik. Di samping itu, bila ∆G besar, sistem tersebut akan
stabil dengan sedikit atau tanpa kecenderungan untuk terjadinya reaksi. Jika ∆G
nol, sistem tersebut berada dalam keseimbangan dan tidak ada perubahan netto
yang terjadi .
Kalau
reaktan terdapat dalam konsentrasi 1,0 mol/L. ∆G⁰ merupakan perubahan energi bebas yang
baku (standar). Untuk reaksi biokimia, keadaan baku diartikan sebagai keadaan
edengan pH 7,0. Perubahan energi bebas baku pada keadaan standar ini dinyatakan
sebagai ∆G⁰.
Perubahan
energi bebas baku dapat dihitung dari konstanta keseimbangan Keq.
Dengan
R adalah konstanta gas dan T adalah suhu absolut (bab 9). Perlu diperhatikan
bahwa ∆G aktual dapat lebih besar atau lebih kecil daripada ∆G⁰, bergantung pada
konsentrasi berbagai reaktan, termasuk pelarut (solven), berbagai ion, protein.
Dalam
sistem reaksi biokimia perlu dipahami bahwa enzim hanya mempercepat pencapaian
keseimbangan; enzim tidak pernah mengubah konsentrasi akhir reaktan tersebut
terlepas dari enzim.
2.2.3 PROSES ENDERGONIK BERLANGSUNG
MELALUI PERANGKAIAN KE PROSES EKSERGONIK
Proses-proses
vital, misal : berbagai reaksi sintesis, kontraksi otot, hantaran impuls saraf,
dan transportasi aktif mendapatkan energinya lewat perangkaian (coupling) atau
pembentukan hubungan kimiawi dengan reaksi oksidatif. Dalam bentuk yang paling
sederhana, tipe perangkaian ini dapat digambarkan sebagai mana terlihat dalam
gambar 12-1. Konversi metabolit A menjadi metabolit B terjadi dengan pelepasan
energi bebas . proses ini dirangkaikan dengan reaksi lain yang memerlukan
energi bebas untuk mengubah metabolit C menjadi D. Karena sebagai energi yang
dibebaskan dalam reaksi penguraian dialihkan kepada reaksi sintesis dalam
bentuk bukan panas, Istilah kimia ”eksotermik”dan “endotermik” yang lazim
dipakai tidak digunakan pada reaksi ini. Sebaliknya, istilah eksergonik dan
endergonik dipakai untuk menunjukkan bahwa suatu proses akan disertai dengan
hilangnya atau diperolehnya energi bebas, tanpa peduli akan bentuk energi yang
terlibat. Dalam praktiknya, suatu proses endergonik tidak dapat berdiri
sendiri, tetapi harus menjadi komponen suatu sistem eksergonik/endergonik yang
berpasangan, yang keseluruhan perubahan nettonyaa bersifat eksergonik. Reaksi
eksergonik diberi nama katabolisme (pemecahan atau oksidasi molekul bahan
bakar). Sedangkan reaksi sintesis yang membangun berbagai substansi disebut
anabolisme. Kombinasi proses katabolik dan anabolik adalah metabolisme.
Jika
reaksi yang terlihat dalam gambar 12-1 berlangsung dari kiri ke kana,
keseluruhan proses pasti disertai dengan hilangnya energi bebas dalam bentuk
panas. Salah satu kemungkinan mekanisme perangkaian dapat dibayangkan bila
suatu intermediet bersama yang wajib (I), ikut mengambil bagian dalam kedua
reaksi, yaitu :
Sebagian
reaksi eksergonik dan endergonik dalam sistem biologik dirangkaikan
menggunakan cara ini. Perlu dipahami
bahwa tipe sistem ini mempunyai mekanisme yang sudah terbentuk sebelumnya
(built-in) bagi pengendalian biologik terhadap kecepatan terjadinya proses
oksidasi karena keberadaan intermediat bersama yang wajib tersebut
memungkinkan kecepatan penggunaan produk
dari lintasan sintesis (D) menentukan kecepatan oksidasi senyawa A, melalui
aksi massa. Hubungan ini memberi suatu landasan bagi konsep kontrol
respiratorik, proses yang mencegah terjadinya pembakaran diluar kendali didalam
tubuh organisme.suatu perluasan terhadap konsep perangkaian dapat ditemukan
pada reaksi dehidrogenasi, yang terangkai dengan hidrogenasi melalui suatu
pembawa-intermediat (gambar 12-2).
Metode
alternatif lain untuk merangkaikan proses eksergonik dengan endergonik adalah
dengan menyintesis sebuah senyawa yang memiliki potensial berenergi tinggi
dalam reaksi eksergonik, dan menyatukan senyawa baru ini ke dalam reaksi
endergonik, sehingga energi bebas dari lintasan eksergonik dialihkan kepada
lintasan endergonik. Dalam gambar 12-3, ~E
merupakan senyawa dengan potensial energi tinggi dan E merupakan senyawa
padanannya dengan potensial energi rendah. Keuntungan biologik mekanisme ini
adalah bahwa ~E, yang berbeda dengan I dalam sistem
sebelumnya, tidak perlu mempunyai hubungan struktural dengan senyawa A,B,C,
atau D. Hal ini akan memungkinkan E mampu berfungsi sebagai tranduser energi
dari rentang reaksi eksergonik yang luas hingga suatu rentang reaksi atau
proses endergonik yang sama luasnya, seperti terlihat dalam gambar 12-4. Dalam
sel hidup, senyawa intermediat atau senyawa pembawa utama (diberi tanda ~E)
adalah adenosin trifosfat (ATP).
2.2.4 SENYAWA FOSFAT BERENERGI-TINGGI
MEMAINKAN PERAN SENTRAL DALAM MENANGKAP DAN MENGALIHKAN ENERGI
Untuk
mempertahankan proses kehidupan, semua organisme harus memperoleh pasokan
energi bebas dari lingkungannya.organisme autotrofik merangkaikan
metabolismenya dengan proses eksergonik sederhana tertentu dalam lingkungan
sekitarnya, misal :tumbuhan hijau menggunakan energi dari cahaya matahari, dan
sebagian bakteri autotrofik mengunakan reaksi Fe2+ →Fe3+. Sebaliknya,
organisme heterotrofik memperoleh energi bebasnya melalui perangkaian
metabolisme oragnisme tersebut dengan pemecahan molekul organik kompleks dalam
lingkungannya. Dalam semua proses ini, ATP memainkan peran sentral dalam
pemindahan energi bebas dari proses eksergonik kepada proses endergonik (gambar
12-3 dan 12-4). ATP merupakan nukleotida trifosfat yang mengandung adenin,
ribosa, dan tiga gugus fosfat. Dalam reaksinya didalam sel, ATP berfungsi
sebagai kompleks Mg2+ (gambar 12-5).
Arti
penting senyawa fosfat didalam metabolisme intermediat terlihat nyata dengan
ditemukannya rincian kimiawi glikolisis dan dengan ditemukannya peran ATP,
adenosin difosfat (ADP), serta fosfat anorganik (Pi) dalam proses ini.ATP
pernah dianggap sebagai sarana untuk memindahkan radikal fosfat dalam proses
fosforilasi. Peranan ATP dalam energetika biokimia ditunjukkan dalam sejumlah
eksperimen pada tahun 1940-an, yang memperlihatkan bahwa ATP dan kreatin fosfat
akan dipecah selama kontraksi otot, dan bahwa resintesis kedua senyawa ini
bergantung pada pasokan energi dari proses oksidasi dalam otot tersebut.
Setelah Lipmann memperkenalkan konsep “fosfat berenergi-tinggi” dan “ikatan
fosfat bernergi-tinggi”, barulah peranan ATP dan kreatin fosfat dalam
bioenergetika dimengerti secara jelas.
Nilai Intermediat untuk Energi Bebas
Hasil Hidrolisis ATP Mempunyai Makna Bioenergetika Penting jika dibandingkan
dengan Senyawa Organofosfat Lain.
Energi
bebas baku hasil hidrolisis sejumlah senyawa fosfat penting dalam biokimia
diperlihatkan pada tabel 12-1. Perkiraan kecenderungan komparatif setiap gugus
fosfat untuk berpindah kepada ekspor yang sesuai dapat diperoleh dari nilai ∆G⁰ pada hidrolisis (yang
diukur pada suhu 37⁰C).
Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa nilai hidrolisis gugus terminal fosfat
pada ATP terbagi kedalam 2 kellompok. Satu, kelompok fosfat berenergi-rendah
yang di representasikan oleh ester fosfat yang ditemukan dalam intermediat
glikolisis, memiliki nilai ∆G⁰
pada ATP, sementara kelompok yang lain dinamai dengan fosfat bernergi-tinggi,
memiliki nilai lebih tinggi daripada nilai yang terdapat pada ATP. Komponen pada kelompok yang disebutkan
terakhir ini, yang mencakup ATP dan ADP, biasanya berupa senyawa-senyawa
anhidrida (misal, 1-fosfat pada 1.3-bisfosfogliserat), enofosfat (misal,
fosfoenolpiruvat), dan fosfoguanidin (misal, kreatin fosfat, arginin fosfat).
Posisi ATP sebagai intermediat memungkinkannya memainkan peranan penting dalam
pemindahan energi. Pertukaran energi bebas yang tinggi pada hidrolisis ATP
disebabkan oleh penolakan muatan pada atom oksigen bermuatan negatif yang
berdekatan dan oleh stabilisasi produk reaksi, khususnya fosfat, sebagai
hibrida resonansi. Senyawa biologik penting lain yang digolongkan sebagai “
senyawa berenergi-tinggi” adalah tiol ester yang mencakup koenzim A (misal,
asetil KoA), protein pembawa asil, senyawa-senyawa ester asam amino yang
terlibat didalam sintesis protein, S-adenosilmetionin (metionin aktif), UDPG 1c
(uridin difosfat glukosa) dan PRPP (5-fosforibosil-1-pirofosfat).
Gugus Fosfat Berenergi-tinggi
Dilambangkan sebagai ~℗
Untuk
menunjukkan keberadaan gugus fosfat berenergi-tinggi, Lipmann memperkenalkan
simbol ~℗.
Simbol ini menunjukkan bahwa gugus yang melekat pada ikatan , pada saat
peralihan kepada suatu akseptor yang tepat, akan mengakibatkan pemindahan
kuantitas energi yang lebih besar. Karena alasan ini, sebagian pakar biokimia
lebih menyukai istilah potensial pemindahan gugus dibandingkan “ikatan
berenergi-tinggi”. Jadi, ATP mengandung 2 gugus fosfat berenergi-tinggi dan ADP
memiliki satu, sementara gugus fosfat dalam AMP (adenosin monofosfat) adalah
fosfat tipe energi-rendah karena merupakan ikatan ester biasa (gambar 12-6).
2.2.5 FOSFAT BERENERGI-TINGGI BERTINDAK
SEBAGAI “PENUKAR ENERGI” DIDALAM SEL
Akibat
posisinya yang berada ditengah daftar tabel energi bebas baku hasil hidrolisis
(Tabel 12-1), ATP dapat bertindak sebagai donor fosfat berenergi-tinggi bagi
senyawa yang tercantumdibawahnya didalam tabel tersebut. Demikian pula, apabila
sistem enzimatik yang diperlukan tersedia, ADP dapat menerima fosfat
berenergi-tinggi untuk membentuk ATP
dari senyawa yang terdapat diatas ATP dalam tabel tersebut. Akibatnya, siklus
ATP/ADP menghubungkan proses-proses yang menghasilkan ~℗ dengan proses yang
menggunakan ~℗
(gambar 12-7). Dengan demikian, ATP terus-menerus dikonsumsi dan dibentuk
kembali. Proses ini terjadi pada kecepatan yang sangat tinggi karena depot
ATP/ADP amat kecil dan hanya cukup untuk mempertahankan jaringan aktif dalam
waktu beberapa detik saja.
Ada
3 sumber utama ~℗
yang mengambil bagian dalam konservasi energi atau penangkapan energi :
1. Fosforilasi
oksidatif: fosforilasi oksidatif merupakan sumber kuantitatif ~℗
terbesar dalam organisme aerobik. Energi bebas untuk menggerakkan proses ini
berasal dari oksidasi rantai respiratorik di dalam mitokondria dengan
menggunakan O2 .
2. Glikolisis
: pembentukan netto dua ~℗ yang terjadi akibat pembentukan laktat
dari satu molekul glukosa yang dihasilkan dalam dua reaksi, yang dikatalisis
masing-masing oleh enzim fosfogliserat kinase dan piruvat kinase (lihat gambar
19-2).
3. Siklus
asam sitrat : satu ~℗dihasilkan
langsung di siklus ini pada tahap suksinil tiokinase (gambar 18-3).
Suatu
kelompok senyawa lain, fosfagen, bertindak sebagai fosfat berenergi-tinggi
bentuk cadangan. Ini mencakup kreatin
fosfat yang terdapat di dalam otot rangka, jantung, spermatozoa, dan otak
vertebrata, serta arginin fosfat yang terdapat di dalam otot invertebrata.
Dalam kondisi fisiologik, senyawa fosfagen memungkinkan konsentrasi ATP di
pertahankan dalam otot ketika ATP digunakan secara cepat sebagai sumber energi
untuk kontraksi otot. Sebaliknya, kalau ATP terdapat dalam jumlah besar dan
rasio ATP/ADP tinggi, konsentrasi ATP dapat menumpuk sehingga berfungsi sebagai
simpanan fosfat berenergi- tinggi (gambar 12-8). Didalam otot, suatu pengangkut
ulang-alik kreatin fosfat (shuttle) telah dikemukakan sebagai alat pengangkut
fosfat berenergi-tinggi dari mitokondria ke dalam sarkolema dan bertindak
sebagai pendapar fosfat berenergi-tinggi (gambar 14-16). Dalam miokardium,
pendapar ini mempunyai makna penting dalam memberi perlindungan segera terhadap
akibat infark.
Ketika
ATP bertindak sebagai donor fosfat untuk membentuk senyawa yang memiliki energi
bebas hidrolisis yang lebih rendah (tabel 12-1), gugus fosfat selalu diubah
menjadi gugus berenergi-rendah, misal,
GLISEROL KINASE
Gliserol
+ Adenosin−℗~℗~℗ Gliserol
−℗+Adenosin−℗~℗
ATP Memungkinkan Perangkaian Reaksi yang
secara Termodinamik tidak menguntungkan dengan Reaksi yang menguntungkan
Energetika
reaksi-terangkai dilukiskan dalam gambar 12-1 dan 12-3. Reaksi semacam ini
merupakan reaksi pertama dalam lintasan glikolisis (gambar 19-2), fosforilasi
glukosa menjadi glukosa 6-fosfat, yang bersifat sangat endergonik dan tidak
dapat berlangsung seperti itu dalam keadaan fisiologis.
(1)
Glukosa+Pi→Glukosa 6-fosfat+H2O
(∆G⁰=
+13,8 kJ/mol)
Agar
dapat berlangsung, reaksi tersebut harus dirangkaikan dengan reaksi lain yang
lebih eksergonik daripada sifat endergonik fosforilasi glukosa. Contoh reaksi
semacam ini adalah hidrolisis gugus terminal fosfat ATP.
(2)ATP→ADP+Pi
(∆G⁰=
-30,5 kJ/mol)
Kalau
(1) dan (2) dirangkaikan dalam reaksi yang dikatalisis oleh heksokinase,
fosforilasi glukosa akan berlangsung dengan mudah dalam reaksi yang sangat
eksergonik, yang dibawah kondisi fisiologik berada jauh dari keadaan
ekuilibrium dan karenanya bersifat ireversible untuk tujuan praktis.
HEKSOKINASE
Glukosa
+ ATP Glukosa 6-fosfat +ADP
∆G⁰= -16,7 kJ/mol
Banyak
reaksi “pengaktifan” mengikuti pola ini.
Adenilil kinase melakukan interkonvensi
pada adenin Nukleotida
Enzim
adenilil kinase (miokinase) ditemukan pada sebagian besal sel. Enzim ini
mengkatalisis interkonversi ATP dan AMP pada satu sisi dan ADP pada sisi yang
lain.
ADENILIL KINASE
ATP + AMP 2ADP
Reaksi
ini mempunyai 3 fungsi :
1. Memungkinkan
fosfat berenergi tinggi didalam ADP digunakan pada sintesis ATP
2. Memungkinkan
AMP, yang terbentuk sebagai hasil beberapa reaksi pengaktifan yang melibatkan
ATP, diperoleh kembali lewat fosforilasi-ulang menjadi ADP.
3. Memungkinkan
peningkatan konsentrasi AMP ketika ATP sudah habis terpakai dan bertindak
sebagai sinyal metabolik (alosterik)untuk menaikkan kecepatan reaksi katabolik,
yang pada gilirannya menghasilkan lebih banyak ATP.
Ketika ATP membentuk AMP, dihasilkan
piropospat anorganik (PPi)
Proses
ini terjadi, misal, pada pengaktifan asam lemak rantai panjang :
ASETIL-KoA SINTETASE
ATP + Koa + SH +R +
COOH AMP + PPi
+ R+ CO−SKoA
Reaksi
ini disertai dengan hilangnya energi bebas sebagai panas, yang memastikan bahwa
reaksi pengaktifan tersebut berlangsung ke kanan ; reaksi ini dibantu lebih
lanjut oleh pemecahan PPi secara hidrolitik, yang dikatalisis enzim
pirofosfatase inorganik, suatu reaksi yang mempunyai ∆G⁰ sebesar -27,6 kJ/mol.
Perhatikan bahwa pengaktifan melalui lintasan pirofosfat menyebabkan hilangnya
~℗
dan bukan kehilangan satu ~℗
seperti terjadi ketika terbentuk ADP dan Pi .
PIROFOSFATASE INORGANIK
PPi
+ H2O 2Pi
Penggabungan
reaksi di atas memungkinkan fosfat di daur ulang serta interkonversi adenin
nukleotida (gambar 12-9).
Nukleosida Trifosfat Lain Turut berperan
dalam pemindahan fosfat berenergi-tinggi
Dengan
bantuan enzim nukleosida difosfat kinase, senyawa nuklesida trifosfat yang
serupa dengan ATP tetapi mengandung basa lain yang bukan adenin, dapat
disintesis dari senyawa difosfatnya, misal:
NUKLEOSIDA DIFOSFAT
KINASE
ATP + UDP ADP + UTP
(Uridintrifosfat)
ATP + GDP ADP + GTP
(Guanosintrifosfat)
ATP + CDP ADP + CTP
(Sitidintrifosfat)
Semua
senyawa trifosfat ini mengambil bagian pada proses fosforilasi didalam sel.
Demikian pula, enzim nukleosida monofosfat kinase, yang khas untuk setiap
nukleosida purin atay pirimidin, mengatalisis pembentukan senyawa nukleosida
difosfat dari senyawa nukleosida difosfat dari senyawa monofosfat yang
bersesuaian :
NUKLEOSIDA
MONOFOSFAT
KINASE SPESIFIK
ATP
+ Nukleosida −℗ ADP +Nukleosida−℗~℗
Dengan
demikian, enzim adenilat kinase merupakan enzim monofosfat kinase yang
mempunyai fungsi khusus.
BAB
III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
1. Sistem
biologik pada hakekatnya bersifat isotermik dan menggunakan energi kimia untuk
menggerakkan berbagai proses kehidupan
2. Reaksi
berlangsung spontan kalau terdapat kehilangan energi bebas (∆G negatif), yaitu
reaksi bersifat eksergonik. Jika ∆G positif, reaksi hanya terjadi bila
diperoleh energi bebas, yaitu reaksi bersifat endergonik.
3. Proses
endergonik hanya terjadi kalau berangkaian dengan proses eksergonik.
4. ATP
bertindak sebagai “penukar energi” sel, memindahkanenergi bebas yang berasal
dari substansi dengan potensial energi lebih tinggi ke substansi dengan
potensial energi lebih rendah.
3.2 SARAN
Dengan
penulisan makalah ini penulis berharap agar tenaga kesehatan di Indonesia mengetahui dan mengerti tentang Bioenergetika
khususnya tentang peranan ATP untuk tubuh.
DAFTAR
PUSTAKA
Anonimous. 2015. (online). (http://fungsi.web.id/2015/06/pengertian-dan-fungsi-atp-adenosin-trifosfat.html. diakses 4 Agustus 2016).
Anonimous. 2015. (online). (http://punyamisbah.blogspot.co.id/bioenergetika-biokimia.html. diakses 4 Agustus 2016).
Bahan Ajar Biokimia 2016 FK Unair
Surabaya
Murray, Robert K, dkk. 2003. Biokimia Harper edisi 25. Jakarta: EGC.
LAMPIRAN

Where will we find the slot machines at the casinos in
BalasHapusYou can also find many of the largest 서산 출장마사지 slot 사천 출장마사지 machines 제주도 출장마사지 at one of the many casinos in Las Vegas. The hotel features over 2,000 slot 남원 출장샵 machines, with a 아산 출장안마