Selasa, 23 Agustus 2016

RIWAYAT NABI IBRAHIM as. MENYEMBELIH/ MENGKORBANKAN ANAKNYA (Nabi Isma’il as.)

Sebab-sebab Nabi Ibrahim menyembelih anaknya :
Diceritakan, bahwa sebab-sebab Nabi Ibrahim menyembelih anaknya, yakni Nabi Isma’il as. Pada awalnya ia berkorban domba sejumlah 1000 ekor, lembu 300 ekor, dan Unta 100 ekor  fi sabilillah, hingga banyak orang mengaguminya, bahkan para malaikatpun kagum pada tindakannya itu.
Nabi Ibrahim as. Berkata : “korban sejumlah itu bagiku tiada berarti/belum apa-apa, demi Allah, kalau saja aku punya seorang anak putra, pasti aku menyembelihnya fi sabilillah, dan kukorbankan kepada Allah Swt.”
Alkisah setelah melewati masa cukup lama, iapun lupa pada pernyataannya/ ucapannya itu, dan ketikaberada di daerah Muqaddasah, Nabi Ibrahim as. Berdo’a kepada Allah, supaya diberi seorang anak putra. Kemudian do’anya dikabulkan oleh Allah, Nabi Ibrahim dianugerahi seorang anak putra, Cukup umur kira-kira berusia 7 tahun, dan ada yang menjelaskan 13 tahun. Firman Allah :

Artinya : “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim”.  (Ash-shaffat :102)
            Lafadh مَعَهُ sebagai penjelas/bayan, yakni, ketika ia cukup umur/mencapai batas sanggup berusaha, lalu di serukan kepadanya lewat mimpi : “penuhilah nadzarmu dulu”.
Ibnu abas ra. Menjelaskan:  “ pada malam Tarwiyah hari ke-8 dzulhijjah, nabi Ibrahim tidur dan ada orang berseru dalam mimpinya: “ hai Ibrahim, penuhilah nadzarmu. Maka esok harinya iapun berpikir, mengingat-ingat, dan adakah mimpi semalam itu dari Allah ataukah dari Syetan?. Itulah sebabnya disebut hari Tarwiyah. Dan pada malam berikutnya, ia mimpi yang kedua kalinya dengan impian sama, lalu keesokan harinya ia tahu pasti/yakin bahwa impian itu jelas dari Allah Swt. Maka disebutlah dengan hari Arafah, sedangkan  tempatnya di padang Arafah yakni hari ke-9 dzulhijjah .  Kemudian pada malam ketiganya, ia mimpi lagi dengan impian serupa, lalu iapun bertekad bulat untuk memenuhi nadzarnya, menyembelih anaknya, itulah sebabnya keesokan harinya disebut dengan “Yaumun Nahr” hari menyembelih Kurban”.
Alkisah, ketika ia hendak berangkat bersama putranya(Nabi Isma’il as.) menuju ke tempat penyembelihan, berkatalah kepada istrinya yang bernama ibu Hajar: “ Hiasilah/dandanilah Isma’il putramu dengan pakaian sebagus-bagusnya sebab ia akan kuajak bertamu (maksudnya bertamu kepada Allah Swt.). oleh Ibu Hajar Isma’il dihias pakaian sebagus-bagusnya, rambut diminyaki dan disisiri. Maka Ibrahim bersama putranya berangkat menuju suatu tempat dekat Mina dengan membawa tampar dan pisau”. Pada hari itu Iblis terkutuk sangat sibuk luar biasa, belum pernah sesibuk itu, sejak ia dijadikan oleh Allah Swt. Ia mondar mandir kesana kemari. Hingga putra Isma’il as. Segera Isma’il melompat medekati ayahnya. Sahut iblis: “ Hai Ibrahim, tidak engkau pandang anakmu yang tampan lagi bagus, serta luwes perilakunya? Jawabnya : “Ya, namun aku ditugasi demikian”. Setelah gagal membujuk ayahnya, Iblispun datang Kepada Ibu Hajar, sahutnya: “kenapa engkau dduk tenang-tenang saja , padahal suamimu membawa anaknya hendak disembelih?.  Jawab Ibu Hajar: Kamu jangan membohongiku, belum pernah aku melihat seorang ayah menyembelih putranya”.  sahut iblis : kenapa ia membawa tampar dan pisau, kalau bukan untuk menyembelih putranya?, Tanya ibu Hajar: “Buat apa seorang ayah menyembelih putranya? Jawab iblis: “Dia menyangka bahwa Tuhan menyuruhnya demikian”. Tegas ibu Hajar : “Seorang Nabi tidak bakal ditugasi berbuat suatu kebatilan, bahkan Jiwaku sendiri siap dikorbankan demi tugasnya yang suci itu, apalagi hanya dengan mengorbankan jiwa anakku, itu kuanggap kecil/belum berarti”. Dengan ini gagal-lah iblis membujuk ibu Hajar, dan iapun frustasi untuk kedua kalinya.
Namun demikian, iblis terus berupaya menggagalkan pelaksanaan korban/ penyembelihan, ia segera menghampiri Nabi Isma’il as. Sahutnya: “hai Isma’il, kenapa kamu enak-enak bermain dan bersenang-senang, padahal ayahmu mengajakmu ketempat ini dengan membawa tampar dan pisau untuk menyembelihmu? Jawab Isma’il as. : “ jangan bohongi aku, kenapa ayahku hendak menyembelih diriku?Sahut iblis: “Dia menyangka bahwa tuhan menyuruhnya demikian”. Tegas Isma’il as.: “Demi perintah Tuhanku, kami siap mendengarkan, mentaati dan melaksanakan sepenuh jiwa raga kami”. Dan ketika Iblis hendak bercincong dengan kata-kata lainnya , Nabi Isma’il as. Segera memungut batu kerikil di tanah, langsung melontarkannya ke arah iblis, hingga butalah mata kirinya. Akhirnya iblis pergi dengan tangan hampa, penuh kesal lagi merugi”. Kemudian Allah mewajibkan kepada kita, dengan melontar batu kerikil (dikenal Jumrah) ditempat kejadian itu, tujuannya menolak bujuk rayu  syetan yang mengusirnya, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Isma’il as. Putra Nabi Ibrahim as. Khalilur Rahman= kekasih Allah yang pemurah”.
Dan sesampainya di Mina, Nabi Ibrahim as. Berterus terang kepada putranya:


Artinya:  "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" (Ash-shaffat: 102)
Maksudnya, jelaskanlah hasil pemikiranmu, apakah kamu sabar/siap melaksanakan tugas dari Allah, ataukah mohon maaf sebelum pelaksanaan”. Demikian ini merupakan uji coba dalam rangka menjajagi, sampai sejauh mana perhatian dan ketaatan/ bakti seorang putra teerhadap ayahnya, apakah ia akan menjawabnya dengan penuh perhatian terhadap tugas suci dari Allah sekaligus taat melaksanakan, ataukah sebaliknya ia membantahnya?


Artinya : "Sahut putranya : "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". (ash-shaffat:102)
Maksudnya sabar terhadap tugas ayahnya, untuk menyembelihnya”.
Maka setelah Nabi Ibrahim as. Mendengar jelas tentang jawaban anaknya, iapun merasa sepenuhnya bahwa do’anya dipenuhi oleh Allah Swt, ia pernah berdo’a :

Artinya : “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh”. (ash-shaffat :100)
Lalu, iapun bertahmid, memuji Allah sebanyak-banyaknya. Dan Isma’il pun menyampaikan pesan-pesan kepada ayahnya, diantara pesannya, yaitu:
1.      Ikatlah tanganku, supaya aku tidak bergerak-gerak, yang nanti merepotkan/menyibukkan ayah.
2.      Mukaku ditelungkupkan ke bumi, supaya tak terlihat oleh ayah, yang nantinya ayah merasa iba/kasihan.
3.      Lipatlah/cincingkanlah baju/kain  ayah, supaya tidak kena percikan darah sedikitpun, yang bisa mengecilkan pahalaku, dan jika dilihat oleh ibuku nanti mengakibatkan ia sedih,
4.      Tajamkanlah pisau ayah, dan segerakan lintasan pisau diatas leherku/tenggorokan, supaya mudah, sebab proses maut terlalu pedih/sangatlah sakit.
5.      Bawa pulanglah bajuku, disampaikan kepada ibuku supaya menjadi pengingat kenang-kenangan baginya, sekaligus sampaikan pula uluk salamku kepadaku, dan pesanku kepadanya: “ bersabarlah dalam melaksanakan tugas/perintah Allah Swt.! Dan jangan dikasih tau cara ayah menyembelih dan mengikat tubuhku/tanganku”.
6.      Janganlah ayah mengajak anak-anak ke rumah ibuku, supaya tidak menyegarkan belasungkawa/dukanya kepadaku. Dan ketika ayah melihat anak sebaya denganku, janganlah dipandang cermat, hal itu mengakibatkan ayah dukacita”.
Selesai mendengarkan pesan putranya, Nabi Ibrahim as. Menumpahkan isi hatinya, sahutnya: “sebagus-bagus pembantu dalam melaksanakan perintah Allah, adalah engkau hai putraku tersayang, firman Allah:

Artinya: Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). (Ash-Shaffat:103)
Maksudnya dibaringkan sebagaimana hendak menyembelih domba, ada pula yang menjelaskan bahwa mukanya ditelungkupkan sebagai isyarat supaya tidak terlihat sebagai isyarat supaya tidak terlihat sesuatu penghalang (berupa kasih sayang) diantaranya dengan tugas dari Allah. Peristiwa ini terjadi di sisi batu besar di Mina, tapi ada yang menjelaskan di tempat al-musyarraf/ dekat Mina.
Alkisah, Nabi Ibrahim as. Menggoreskan pisau sekuat-kuatnya pada bagian tenggorokan seorang putra tersayang, para malaikatpun segera bersujud, seruNya kepada mereka: “Perhatikan hai para malaikat, bagaimana seorang hambaKu/Ibrahim menggoreskan pisau diatas leher/tenggorokan putranya, semata untuk menuntut ridlaku, sedang kalian dulu pernah menyanggah/berkata, ketika aku berfirman:


Artinya : "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?"  (al-baqarah:30)
Selanjutnya Nabi Isma’il as. Berkata: “hai ayah, lepaskanlah tali pengikat tangan dan kaki ini, supaya aku tidak dinilai terpaksa/tertekan oleh Allah Swt. Maksudnya tiada penilaian: “Tertekan” dalam melaksanakan tugas dari \Allah Swt. Tapi goreskanlah pisau pada leherku, supaya malaikat tahu pasti bahwa:  “putra Al-Khalli/Isma’il putra Ibrahim as. Patuh kepada Allah dan perintahNya semata berdasarkan “pilihan hati”, suka rela. Atau dengan kata lain atas kesadaran dari pribadinya”.
Kemudian nabi Ibrahim as. Memanjakan kedua tangan dan kakinya, tanpa pengikat dan ia hadapkan mukanya ke bumi, lalupisaupun digoreskan sekuat-kuatnya, ternyata mendal/piasau membalik, tidak sanggup memutuskan leherNabi Isma’il as. Dengan ijin Allah Swt.
Nabi Ibrahim as. Belum puas atas kemampuannya, pisau-pisau pun diayunkan pada sebuah batu, terbelah batu itu menjadi dua keping. Gerutunya:”Hai pisau, engakau dapat membelah batu, tapi tidak mampu memutuskan daging”. Jawab pisau yang saat itu mampu berbicara dengan kekuasaan Allah :”Hai Ibrahim,  engkau menghendaki potong, sedang Allah penguasa alam berfirman: “Jangan potong”, kenapa aku harus merintah Tuhanmu? Selanjutnya Allah berfirman:


Artinya : “Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim,
sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu", sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik”. (Ash-shaffat: 104-105)
Maka nyatalah bagi hamba-hambaKu, bahwa engkau mengutamakan keridhoanKu, melebihi kasih sayangmu terhadap putramu”. Dengan ini, berarti engkau salah seorang yang berlaku baik”.

Artinya: “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata”. (Ash-shaffat: 106)
Uji coba nyata, berupa penyembelihan, untuk membedakan siapa yang ikhlas dalam beramal, dan siapa pula yang hanya pura-pura belaka”. Atau sebagai uji coba yang nyata berat dan sulitnya, tiada bandingnya”.

Artinya: “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”. (Ash-shaffat:107)
Kami tebus maksudnya kami selamatkan Ibrahim yang mengemban tugas menyembelih, dengan sembelihan besar dari surga, yakni seekor kibasy yang dulu dikorbankan oleh Habil dan telah diterima darinya. Domba kibas itu di surga hidup, hingga dibuat pengganti putra Isma’il, keadaannya gemuk. Dan Jibril as. Datang membawa domba kibas itu, ia sempat melihat Nabi Ibrahim as. Menggoreskan pisau pada leher/tenggorokan Nabi Isma’il.
Maka Jibril as. Menggembor, mengagungkan Allah Swt. Dan kagum pada tindakan mulia Nabi Ibrahim as. Serunya:

Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar”.
Nabi Ibrahim segera menyahut:

Artinya: “tiada Tuhan yang lain, kecuali Allah dan Allah Maha Besar”.
Lalu diikuti oleh Nabi Isma’il as:

Artinya: “Allah Maha Besar, dan BagiNya segala puji”.
Kemudian rangkaian kalimat Thayyibah ini, diwajibkan oleh Allah untuk dikumandangkan oleh kita pada hari Nahr/Hari raya Kurban, hari ke-10 dzulhijjah, semata mengikuti tindakan/jejak mulia Nabi Ibrahim as.
Ibnu Abas ra. Menjelaskan: “kalau saja penyembelihan itu sempurna dilakukan, pasti manusia disunahkan menyembelih putranya”.
Berdasarkan ayat tersebut di atas, Abu Hanifah menegaskan, siapa bernadzar menyembelih putranya, maka ia wajib berkorban menyembelih seekor domba”.
Ada yang menceritakan bahwa nabi Isma’il as. Berkata kepada ayahnya: “siapakah yang lebih dermawan, ayah ataukah aku? Jawab Ibrahim: “Aku”. Sahut Isma’il: “Pasti aku, sebab ayah masih ada putra lainnya sedang aku tiada nyawa kecuali satu nyawa saja”. Kemudian disusul oleh firman Allah : “Aku-lah yang lebih dermawan melebihi kalian berdua, sebab aku telah memberi domba Kibasy sebagai tebusanbagi kalian, sekaligus membebaskan derita penyembelihan”.(Misykatul Anwar).
Diceritakan pula bahwa para malaikat mengagumi karamah Nabi Isma’il as. Yang datang dari Tuhan alam semesta, ketika Dia mengirim seekor domba dari surga dibawa oleh jibril as. Untuk menebusnya. Allah swt. Dalam firmannya :
Artinya: “demi kemenangan dan keagunganKu, seandainya para malaikat seluruhnya membawa tebusan pada leher-leher mereka untuk Isma’il, pasti tidak memadai, mengingat firmanNya:

Artinya: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar" (Ash-shaffat:102)
Dijelaskan, ketika Nabi Ibrahim as. Mimpi untuk yang pertama kalinya, ia memilih domba-domba gemuk sejumlah 100 ekor, lalu disembelih sebagai korban. Kemudian api datang menyantapnya dan Ibrahimpun mengira bahwa perintah itu dari Allah, dan ia memillih unta-unta yang gemuk  sejumlah 100 ekor, lalu disembelih sebagai kurban, kemudian api datang menyantapnya, dan Ibrahim mengira bahwa perintah dalam mimpi sudah dipenuhi”. Dan pada mimpi yang ketiga kalinya, seolah-olah ada yang menyeru : “sesungguhnya Allah menyuruhmu supaya menyembelih putramu Isma’il as. Maka bangunlah ia, langsung merangkul putranya itu, dan menangislah hingga masuk waktu shubuh”. (Majalisul Anwar)
Diterang pula, sewaktu Ibrahim as. Diangkat sebagai Al-khalil oleh Allah, setengahnya dari kalangan malaikat memprotes, sahutnya: “ya Tuhan, Ibrahimitu seorang yang hartawan, lagi pula banyak anak dan istri, kenapa ia diangkat sebagai khalil/kekasihMu di tengah-tengah kesibukannya? Dijawab oleh Allah dengan FirmanNya: “kalian jangan memandang/menilai dari segi bentuk seseorang hambaKu ataupun harta yang ia miliki, namun pandanglah isi lubuk hati dan amal perbuatannya, dalam lubuk hati seorang kekasihKu, tiada yang disenangi selain  Aku, untuk membuktikan hal itu silahkan kalian datang menguji kebenarannya”.
Alkisah,Jibril datang kepada ibrahim as. Dengan bentuk layaknya manusia, saat itu Ibrahim memelihara sejumlah 12.000 anjing untuk berburu, sekaligus menjaga domba-dombanya”. Kira-kira berapa ratus ribu ekor domba millik Nabi Ibrahim as.? Hitung aja secara imbang dengan jumlah 12.000 ekor penjaga, dan tidaklah wajar jika satu penjaga cukup untuk seekor atau dua ekor domba, dan setiap penjaga dikalungi dengan emas, hal itu sengaja dilakukan oleh Ibrahim as. Intuk bahan pengertian/umumnya manusia tahu bahwa: “Dunia adalah najis, dan sesuatu yangnajis tidaklah patut kecuali digunakan untuk yang najis juga”.
Pada waktu Jibril datang, Nabi Ibrahim as. Tengah mengawasi domba-dombanya dari atas sebuah bukit tinggi. Malaikta Jibril as. Uluk salam dan bertanya: “Kepunyaan siapa domba-domba sebanyak ini ? jawab Ibrahim: “Kepunyaan Allah, namun saat ini berada ditanganku”. Sahut Jibril: “serahkanlah seekor saja dari sekian banyak domba ini? Jawab Ibrahim: “Jangankan seekor,sepertiga dari jumlah keseluruhan domba-domba ini, silahkan anda memungutnya, dengan catatan anda berdzikir kepada Allah”. Lalu Jibril membaca kalimat:

Artinya : “Maha Suci Allah, Tuhan kami dan Tuhannya para malaikat berikut Tuhannya Jibril”.
Selanjutnya Ibrahim berkata : “berdzikirlah untuk yang kedua kalinya, silahkan anda memungut separoh dari jumlah yang tersisa”. Lalu Jibrilpun membaca kalimat yang serupa/ tersebut di atas”.
Kemudian Ibrahim berkata lagi : “berdzikirlah untuk yang ketiga kalinya, silahkan anda memungut seluruhnya, berikut sejumlah penggembala dan anjing-anjing penjaganya”. Lalu Jbrilpun membaca kalimat yang serupa.
Akhirnya Ibrahim berkata : “Berdzikirlah untuk keempat kalinya, dan berikrarlah bagimu sebagai hamba. Lalu Jibrilpun membaca kalimat yang serupa.
Maka Allah swt. Bertanya: “Hai Jibril, bagaimana engkau dapati kekasihku? Jawabnya: “sebagus-bagus al-Khalil ya Tuhanku”
Alkisah, Nabi Ibrahim as. Berseru : “Hai sekalian para penggembala domba,giringlah semua domba itu mengikuti pemiliknya ini, kemana saja maunya, dan kalian sudah menjadi miliknya”
Kemudian Jibril memperlihatkan aslinya sebagai malikat, katanya : “Hai Ibrahim, sama sekali tidak hajat bagiku/aku tidak memerlukan domba-domba itu, kunjunganku ini semata-mata untuk mengujimu”. Jawab Ibrahim as. : “aku adalah Khalil Allah, dan sebagai seorang Khalil tidak pantas mengambil kembali suatu pemberian, untuk itu pemberianku kepadamu tidak mungkin kutarik lagi”.
Maka Allah memberi wahyu kepadanya, supaya domba-domba itu dijual, kemudian dibelikan barng-barang dan tanah, dijadikan waqaf yang dapat dimakan oleh umat manusia, baik mereka yang fakir ataupun yang kaya, hingga kiamat”. (Misykatul Anwar)

Ukuran Wajib Berkorban :
Ada Ulama menegaskan : “siap yang mempunyai emas seberat 20 kati atau uang sejumlah 200 dirham perak, dari sisa hajat hidup sehari-hari/keperluan pokok, berarti ia tergolong orang kaya, dan wajib berkurban. Berbeda jika nilainya kurang dari 200 dirham, ia tidak dikenakan wajib berkurban”.
Dan dijelaskan pula bahwa orang yang mempunyai tanah seharga 200 dirham, berarti ia tergolong orang kaya, apalagi jika ia melebihi ukuran tersebut.
Dan orang yang mempunyai buah-buahan sebangsa anggur, seharga 200 dirham menurut sepakat Ulama berarti tergolong orang kaya, sebab buah-buahan macam anggur termasuk pelengkap/kesenangan, bukan makanan/hajat pokok, dan tidak sedikit manusia hidup tanpa buah-buahan/sebangsa anggur,apel, jeruk, dll.(demikian dimuat dalam kitab Zubdatul Wa’idhin).


Sumber : Kitab terjemah Duratun Nasihin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar