Makalah
Patologi Anatomi
KORIOKARSINOMA
Pembimbing
:
dr.
Nila Kurniasari,SpPA
Disusun oleh
:
Nama : Nuris Sa’adah Khoir
NIM : 011511233022
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN BIDAN
FAKULTAS
KEDOKTERAN
UNIVERSITAS
AIRLANGGA
SURABAYA
2016
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahiim...
Dengan mengucapkan syukur kehadirat
illahi rabbi, yang telah memberikan cinta dan hidayah-nya, sehingga penulis
dapat menyusun dan menyelesaikan makalah yang berjudul “Penyakit trofoblas
ganas (Kariokarsinoma)” dengan sebaik - baiknya. Makalah ini diajukan
untuk memenuhi salah satu syarat tugas matakuliah Patologi Anatomi. Makalah ini
ditulis dari hasil penyusunan yang penulis peroleh dari infomasi beberapa buku
dan media massa yang berhubungan dengan Penyakit trofoblas ganas atau bisa
disebut Kariokarsinoma .
Dalam penyusunan makalah ini,
penulis mengucapkan terima kasih kepada
1.
Tuhan Yang Maha Esa
2. dr.
Nila Kurniasari,SpPA dan staf Dosen
Departemen Patologi Anatomi sebagai pembimbing matakuliah Patologi Anatomi
3.
Orang tua yang memberi dukungan
moriil maupun materiil
4.
Dan teman-teman sekalian
Penulis menyadari dengan penuh
kerendahan hati, bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, maka dari itu
penulis mengharapkan kritik dan sarannya dari para pembaca yang budiman, demi
kebaikan/kesempurnaan dimasa yang akan datang. Semoga makalah ini ada faedah
untuk pembaca budiman umumnya dan penulis khususnya.
Surabaya,
19 Juni 2016
Penulis
DAFTAR ISI
Kata Pengantar................................................................................................. i
Daftar Isi.......................................................................................................... ii
BAB I :
Pendahuluan....................................................................................... 1
- 1.1 Latar Belakang Masalah....................................................................... 1
- 1.2 Rumusan Masalah................................................................................. 1
- 1.3 Tujuan Penelitian.................................................................................. 1
- 1.4 Manfaat Penelitian................................................................................ 1
BAB II : Hasil
Dan Pembahasan...................................................................... 2
- 2.1 Penyakit Trofoblas................................................................................ 2
- 2.2 Koriokarsinoma.................................................................................... 3
BAB III :
Penutup............................................................................................ 15
3.1
Kesimpulan.......................................................................................... 15
3.2
Saran.................................................................................................... 15
Daftar Pustaka................................................................................................. 16
Lampiran.......................................................................................................... 17
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
LATAR
BELAKANG
Koriokarsinoma
merupakan salah satu penyakit trofoblas gestasional (PTG) dimana sejumlah
15-28% wanita dengan mola hidatidosa mengalami degenerasi keganasan menjadi
PTG. Salah satu penyebab perdarahan saat kehamilan adalah mola hidatidosa. Mola
hidatidosa adalah bentuk jinak dari penyakit trofoblas gestasional dan dapat
mengalami transformasi menjadi benuk ganasnya yaitu koriokarsinoma.
Kariokarsinoma tidak selalu berasal dari mola hidatidosa namun tidak jarang
berasal dari kehamilan normal, prematur, abortus maupun kehamilan ektopik yang
jaringan tofoblasnya mengalami konversi menjadi tumor trofoblas ganas.
Koriokarsinoma ini sering terjadi pada usia 14-49 tahun dengan rata-rata 31,2
tahun. Resiko terjadinya PTG yang non metastase 75% didahului oleh mola
hidatidosa dan sisanya oleh abortus, kehamilan ektopik atau kehamilan aterm.
Resiko terjadinya PTG yang metastase 50% didahului oleh mola hidatidosa, 25%
oleh abortus, 22% oleh kehamilan aterm dan 3% oleh kehamilan ektopik. Angka kejadian
tertinggi koriokarsinoma di dunia ditemukan terbanyak pada daerah Asia, Afrika,
dan Amerika Latin. Juga disebutkan bahwa angka kejadian rat-rata terendah
secara signifikan terlihat didaerah Amerika Utara, Eropa dan Australia. Di
amerika angka kejadian koriokarsinoma berkisar 1 dari 20-40 ribu kehamilan,
dimana diperkirakan angka kejadiannya 1 dari 40 kehamilan, 1 dari 150.000
kehamilan normal. Sedangkan di Indonesia sendiri disebutkan bahwa abgka
kejadian penyakit trofobas secara umum bervariasi, di antara 1/120 hingga 1/200
kehamilan.
1.2
RUMUSAN
MASALAH
1.
Bagaimanakah etiologi
dan patogenesis dari penyakit trofoblas?
2.
Bagaimanakah
epidemiologi, progresivitas, gejala klinis, dasar diagnosis, terapi, dan
prognosis serta peran bidan untuk Koriokarsinoma?
1.3
TUJUAN
PENELITIAN
1.
Untuk mengetahui
etiologi dan patogenesis dari penyakit trofoblas.
2.
Untuk mengetahui
epidemiologi, progresivitas, gejala klinis, dasar diagnosis, terapi, dan
prognosis serta peran bidan untuk Koriokarsinoma.
1.4
MANFAAT
PENELITIAN
Memberi
informasi kepada pembaca mengenai penyakit trofoblas ganas (koriokarsinoma).
BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN
2.1
Penyakit trofoblas
Yang
disebut penyakit trofoblas ialah penyakit yang mengenai sel-sel t rofoblas. Di
dalam tubuh wanita sel trofoblas hanya ditemukan bila wanita itu hamil. Di luar
kehamilan sel-sel trofoblas dapat ditemukan pada teratoma dari ovarium, karena
itu penyakit trofoblas yang berasal dari kehamilan disebut sebagai Gestational
Trophoblastic Disease,sedangkan yang berasal dari teratoma disebut Non Gestational Trophoblastic Disease.
Pada umumnya setiap kehamilan berakhir dengan lahirnya bayi yang sempurna.
Tetapi dalam kenyataannya tidak selalu demikian. Seringkali perkembangan
kehamilan mendapat gangguanyang dapat terjadi pada berbagai tahap. Tergantung
pada tahap mana gaangguan itu terjadi, maka hasil kehamilan dapat berupa
keguguran, kehamilan ektopik, prematuritas, kematian janin, dalam rahim atau
kelainan kongenital. Kesemuanya merupakan kegagalan fungsi reproduksi. Demikian
pula dengan penyakit trofoblas, pada hakekatnya merupakan kegagalan reproduksi.
Disini kehamilan tidak berkembang menjadi janin yang sempurna, melainkan
berkembang menjadi keadaan patologik yang terjadi pada minggu-minggu pertama
kehamilan, berupa degenerasi hidropik dari jonjot korion, sehingga menyerupai
gelembung yang disebut mola hidatidosa. Pada umumnya penderita mola hidatidosa
akan menjadi baik kembali, tetapi ada diantaranya yang kemudian mengalami
degenerasi keganasan berupa koriokarsinoma. Jadi yang termasuk penyakit trofoblas itu adalah
mola hidatidosa yang jinak dan kariokarsinoma yang ganas.
2.1.1 Etiologi
Walaupun
penyakit ini sudah dikenal sejak abad keenam, tetappi sampai sekarang belum
diketahui dengan pasti penyebabnya. Berbagai teori telah dianjurkan, misalnya
teori infeksi, defisiensi makanan, terutama protein tinggi dan teori
kebangsaan. Ada pula teori consanguinity.
Teori yang paling cocok dengan keadaan adalah teori dari Acosta Sison, yaitu
defisiensi protein, karena kenyataan membuktikan bahwa penyakit ini lebih
banyak ditemukan pada wanita dari golongan sosio ekonomi rendah. Akhir-akhir
ini dianggap bahwa kelainan tersebut terjadi karena pembuahan sebuah sel telur
dimana intinya telah hilang atau tidak aktif lagi oleh sebuah sel sperma yang
mengandung 23 x (haploid) kromosom, kemudian membelah menjadi 46 xx, sehingga
mola hidatidosa bersifat homozigote, wanita dan androgenesis. Kadang-kadang
terjadi pembuahan oleh 2 sperma, sehingga terjadi 46 xx atau 46 xy.
2.1.2
Patogenesis
Ada
beberapa teori yang diajukan untuk menerangkan patogenesis dari penyakit
trofoblas. Pertama teori missed abortion.
Mudigah mati pada kehamilan 3-5 minggu (missed
abortion) Karena itu terjadi gangguan peredaran darah sehingga terjadi
penimbunan cairan dalam jaringan mesenkim dari villi dan akhirnya terbentuklah
gelembung-gelembung. Menurut reynolds, kematian mudigah itu disebabkan
kekurangan gizi berupa asam folik dan histidine pada kehamilan hari ke-13 dan
21. Hal ini kemudian menyebabkan gangguan angiogenesis. Kedua, teori neoplasma
dari park yang mengatakan bahwa yang
abnormal adalah sel-sel trofoblas, yang mempunyai fungsi abnormal pula, dimana
terjadi resorpsi cairan yang berlebihan kedalam villi sehingga timbul
gelembung. Hal ini menyebabkan gangguan peredaran darah dan kematian mudigah.
2.2 Koriokarsinoma
2.2.1 Pengertian
Koriokarsinoma
(Kr) adalah keganasan yang terjadi pascakehamilan mola atau nonmola, ditandai
dengan adanya sel sito dan sel sinsitiotrofoblas yang atipik, tanpa vili
korialis di uterus atau jaringan lain.
Koriokarsinoma
(Kr) adalah tumor ganas yang berasal dari jaringan yang mengandung trofoblas,
seperti lapisan trofoblas ovum yang sedang tumbuh, vili dari plasenta,
gelembung mola, dan emboli sel-sel trofoblas dimana saja di dalam badan.
Ada
beberapa cara mengungkapkan pengertian Kr, dua diantaranya seperti yang
tersebut diatas. Secara prinsip kedua-duanya tidak ada perbedaan.
Kr
Adalah jenis PTG yang pertama-tama dikenal dan yang paling besar mendapat
perhatian para pakar karena perkembangan klinisnya yang sangat bervariasi,
derajat keganasan yang tinggi, dapat bermetastasis ke berbagai tempat, dan
prognosisnya yang buruk. Walaupun demikian, pernah dilaporkan adanya
kasus-kasus yang mengalami regresi spontanea (Novak). Disamping itu, juga
sangat responsif terhadap kemoterapi.
Nama-nama
yang pernah digunakan untuk jenis keganasan ini antara lain, adalah
chorioepithelioma(Mathieu), Choriocarcinoma (Novak), dan Choriocarcinoma
non-Villosum (S. Tjokronegoro).
2.2.2 Epidemiologi dan
progresivitas
Berbeda
dengan Ml, Kr dapat berasal dari semua jenis kehamilan, walaupun yang terbanyak
berasal dari MHK.
Seperti
yang diterangkan di atas, Kr juga merupakan jenisTTG yang paling banyak
ditemukan dibandingkan dengan Ml atau PSTT.
Faktor
risiko untuk terjadinya Kr pasca-MHK, tidak berbeda dengan TTg lainnya, seperti
umur, besar uterus, kadar β-hCG dan kista lutein bilateral. Tetapi, faktor
risiko terjadinya TTG paskakehamilan nonmola, sampai sekarang belum diketahui
dengan jelas.
Hal
yang menarik dari Kr ini adalah banyaknya kasus yang ditemukan pada wanita muda
dengan paritas rendah, atau bahkan nulipara. Hal ini berbeda dengan jenis
kanker ginekologi lainnya seperti kanker ovarium, korpus atau serviks, di mana
pada umumnya lebih banyak ditemukan pada wanita dengan umur lanjut. Keadaan ini
sangat merugikan andaikata mereka datang dalam keadaan lanjut, sehingga perlu
dilakukan tindakan histerektomi. Dibandingkan dengan MI, umur rata-rata
penderita Kr lebih muda(Sarnadi N).
Proses
transformasi keganasan atau masa latennya, ternyata lebih lama dari Ml.
Pengalaman di RSHS menunjukkan bahwa masa laten rata-rata untuk Ml adalah 4
bulan, sedangkan untuk Kr, diatas 4 bulan, bahkan ada satu kasus yang masa
latennya diperkirakan 12 tahun. Hal ini
tidak berbeda dengan pendapat Hertig yang mengatakan bahwa masa laten Kr mempunyai
rentang waktu yang panjang, yaitu antara satu minggu sampai 9 tahun.
Progresivitasnya
melebihi Ml dan PSTT, terutama dalam potensinya untuk bermetastasis. Sering
kali metastasisnya berlangsung dengan cepat, mengenai berbagai organ, termasuk
organ yang jauh, sehingga kalau tidak
segera ditanggulangi secara benar, dapat menyebabkan kematian dalam waktu yang
pendek. Tetapi, perkembangannya didalam uterus sebdiri, dibandingkan dengan Ml,
lebih lambat. Kasus perforasi pada Ml, dua kali lebih banyak dibandingkan
dengan Kr, sedangkan terjadinya lebih cepat dan pada uterus yang lebih kecil.
Pada Kr, terjadinya lebih lambat, bahkan ada satu kasus yang mengalami
perforasinya pada uterus sebesar 28 minggu (Martaadisoebrata D). Gambar 5.1,
5.2, dan 5.3(lampiran) merupakan contoh berbagai bentuk Kr di uterus.
2.2.3 Gejala klinis
Gambaran
klinis Kr, sangat bervariasi, karena sangat tergantung sudah sejauh mana
penyakit tersebut menyebar. Kalau massa tumor berada dikavum uteri, serviks
atau vulva/vagina, gejala perdarahan selalu terjadi. Bisa berupa perdarahan
sedikit-sedikit, kadang-kadang berulang, sehingga tidak menimbulkan rasa khawatir. Tetapi, bisa
juga sekaligus banyak sampai terjadi syok hipovolemik. Walaupun terletak di
uterus, bila massa tumornya berada di miometrium, tidak akan terjadi
perdarahan. Kalau terjadi perforasi,kejadiannya tidak akan seakut seperti pada
Ml. Bahkan sering terjadi dimana perforasinya baru diketahui durante
operationum. Mengapa terjadi demikian, agaknya dapat diterangkan sebagai berikut.
Pada waktu terjadi perforasi, daerah tersebut segera tertutup oleh omentum atau
usus, sehingga proses perdarahan terhenti. Keadaan semacam ini, karena tidak
memberikan gejala akut, dapat kita sebut sebagai silent rupture (lampiran gambar
5.4)
Tetapi
keadaan ini dapat menjadi berbahaya bila kita melakukan pemeriksaan dalam. Bila
tidak hati-hati, jaringan yang menutup daerah perforasi tersebut dapat
terlepas, kemudian terjadilah perdarahan.
Bahaya
perdarahan bisa juga terjadi pada saat dilakukan operasi, yaitu pada saat
melepaskan omentum atau usus dari daerah perforasi tersebut. Oleh karena itu,
kalau memungkinkan, omentum yang melekat jangan dilepaskan dari daerah
perforasi tersebut. Pemotongan omentum sebaiknya dilakukan pada tempat lain.
Silent
rupture dapat pula terjadi pada perforasi yang kecil tanpa harus ada penutupan
oleh jaringan sekitarnya, seperti yang terlihat pada gambar 5.5(lampiran). Pada
kasus tersebut penderita dirawat tidak dalam keadaan akut, atau indikasi
operasi dibuat atas dasar besarnya uterus.
Progresivitas
Kr di uterus, sangat bervariasi. Ada kasus, di mana uterus terus membesar tanpa
terjadi perforasi, padahal uetrusnya telah mencapai ukuran 26-28 minggu,
seperti pada gambar 5.6(lampiran).
Tetapi,
ada pula kasus wanita muda, yang telah mengalami perforasi dini, yaitu pada
uterus sebesar lebih kurang 12 minggu (lampiran gambar 5.7)
Pada
kasus dengan metastasis di vulva/ vagina pun gambaran kliniknya bisa
berbeda-beda. Ada metastasis tunggal, besar bertangkai, perdarahan sedikit,
tetapi ada juga metastasis multipel, kecil-kecil, disertai perdarahan yang
banyak, seperti pada gambar 5.8(lampiran).
Metastasis
vagina yang paling berbahaya adalah bila letaknya di forniks, karena perdarahan
bisa banyak dan sukar diatasi. Kasus yang banyak berdarah biasanya bila massa
tumornya melekat pada dinding vagina dengan dasar yang luas (tidak merupakan
tangkai) dan disertai vaskularisasi yang berlebihan. Walaupun stadium II itu
masih merupakan penyebaran yang dekat dan terbatas, kita tetap harus waspada,
karena ada kasus yang perdarahannya begitu hebat sehingga memerlukan transfusi
darah lebih dari 25 botol.
Kalau
sudah ada metastasis ke tempat lain, seperti usus, hati, paru-paru atau otak,
maka sering kali gejala klinisnya yang lebih dominan adalah gejala
nonginekologik, seperti hematemesis/melena, ikterus, dispnea, hemoptoe,
gangguan fungsi pernapasan atau gangguan neurologik. Karena itu, tidak jarang
kasus Kr mula-mula di Bagian Interne atau Neurologi adahulu, baru kemudian
dikonsultasikan ke Bagian Obstetri Ginekologi. Karena adanya berbagai gejala
nonginekologik tersebut, Kr sering disebut sebagai “The great Imitator”.
2.2.4 Dasar diagnosis
Klinis
Untuk
kasus Kr nyang berasal dari MHK, sebetulnya mudah untuk membuat diagnosisnya,
bahkan dapat dibuat secara dini, asal penderitanya mau memeriksakan diri secara
teratur, karena mereka sesungguhnya sudah diberi informasi tentang adanya
kemungkinan keganasan, dan diharuskan untuk melakukan follow up selama satu
tahun.
Bila
selama follow up ditemukan distorsi dari kurva regresi β-hCG, sebelum minggu
ke-12, atau kenaikan lagi setelah pernah mencapai kadar normal, adanya
keganasan sudah dapat dipertanggungjawabkan, hanya disini tidak dapat disebut
sebagai Kr, melainkan Persistent
Trophoblastic Disease (PTD), karena tidak dibuat pemeriksaan PA.
Untuk
kasus-kasus yang didahului oleh jenis kehamilan lain, seperti abortus,
kehamilan ektopik atau aterm, diagnosis lebih sukar. Oleh karena itu, acosta
Sison mengusulkan kriteria Hbes, yang berarti:
H
= having expelled a product of conception
B
= bleeding
Es
= enlargement and softness of the uterus
Jadi,
sebetulnya Acosta Sison ingin mengatakan bahwa pada semua wanita yang pernah
mengeluarkan hasil kehamilan, apapun juga jenisnya, kemudian mengalami
perdarahan per vaginam, yang disertai dengan adanya suninvolusi uterus, maka
wanita tersebut patut dicurigai menderita keganasan. Apalagi bila disertai
dengan kenaikan kadar hCG atau tanda-tanda metastasis lainnya.
Seperti
juga pada MHK, pada kasus Kr sering dijumpai penyulit tirotoksikosis (Nisula,
Soutter). Demikian pula di RSHS, pada akhir-akhir ini, kasus Kr yang disertai
hipertiroidisme, cenderung meningkat. Hal ini mengakibatkan setiap
berkonsultasi ke Bagian Penyakit Dalam, mereka selalu minta diperikas T3,T4, dan
TSH dahulu. Mereka selalu akan diberikan pengobatan anti tiroid, walaupun
hipertiroidismenya hanya merupakan kelainan biokimia, tanpa gejala klinis.
Keadaan ini sering kali menyebabkan terlambatnya tindakan operasi.
Sehubungan
dengan itu, sebaiknya para SpOG selalu waspada terhadap kemungkinan adanya
penyulit ini.
Laboratoris
Adanya
peninggian kadar β-hCG akan memperkuat diagnosis, disamping itu, jumlah
kuantitatifnya akan sangat bernilai dalam menentukan Skor Faktor Risikonya.
Sehubungan
dengan kemungkinan adanya penyulit tirotoksikosis, sebaiknya pada tiap kasus Kr
diperiksa T3, T4, dan TSH.
USG
Gambaran
USG uterus pada Kr sesungguhnya tidak sejelas seperti pada Ml. Biasanya para
pakar akan mengatakan bahwa tampak massa kompleks denga disertai adanya neovaskularisasi.
Kadang-kadang gambaran USG dapat menunjukkan adanya ancama perforasi/ perforasi
uterus.
Diagnosis
Kr sering terlambat dibandingkan dengan Ml, antara lain karena ketidakpatuhan
dan ketidakwaspadaan penderita. Di samping itu, ada sebab lain, yaitu kehamilan
yang mendahului Kr itu bukan hanya MH saja. Mereka yang pernah hamil aterm atau
abortus, kemudian mengalami perdarahan yang tidak teratur, apalagi bila
disertai gejala-gejala nonginekologi, sering tidak mengaitkannya dengan
kemungkinan TTG, karena mereka tidak pernah diberi informasi tentang
kemungkinan ini. Demikian pula dengan SpOG yang memeriksanya, sering menganggap
sebagai ginekologi yang lain.
PERHATIAN UNTUK PARA SpOG
1.
Untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan adanya koriokarsinoma,
kriteria Acosta Sison harus jadi pegangan
2.
Bila ditemukan tanda-tanda hbes, periksa β-hcg secara sama kuantitatif,
misalnya teat pack
3.
Bila hasilnya positif, segera rujuk
|
Diagnosis Pasti
Seperti
juga pada Ml, kepastian diagnosis ditentukan oleh hasil pemeriksaan Patologi
Anatomi. Hal ini sangat penting mengingat Kr adalah jenis TTg yang terganas,
dan memerlukan penanganan yang sangat intensif.
Pada
umumnya gambaran PA nya menunjukkkan adanya sel trofoblas yang atipik, tanpa
vili korialis, disertai hemoragi dan nekrosis.
|
PERHATIAN
Perbedaan
Kariokarsinoma dengan tumor ginekologik lainnya:
1. Banyak mengenai wanita
muda dengan paritas rendah, sehingga upaya untuk mempertahankan fungsi
reproduksi menjadi sangat penting.
2. Mempunyai masa laten yang
dapat diukur dan mempuntai nilai prognosis
3. Mempunyai pertanda tumor
yang spesidfik, yaitu β-hcg juga bernilai
prognostik
4. Dapat diobati secara
tuntas, tanpa kehilangan fungsi reproduksi, asal diketahui secara dini
5. Sering memberikan gejal
nonginekologik seperti hematemesis, ikterus, hemoptoe atau gangguan
neurologik, karena itu sering diseut sebagai “The Great Inhibitor”
6. Prognosis penyakit tidak
ditentukan oleh jauhnya penyebaran, tetapi oleh skor Faktor Risiko FIGO.
|
2.2.5 Terapi
Kemoterapi
Kalau
kita berbicara tentang Kr, berarti kita bercara tentang kelainan yang
diagnosisnya dibuat berdasarkan pemeriksaan PA, yang jaringannya bisa berasal
dari uterus, metastasis vulva/vagina atau organ lain, melalui tindakan kuretase,
histerektomi atau biopsi.
Secara
konseptual, pengobatan terhadap TTG, termasuk Kr, selalu harus bertujuan untuk
menghilangkan massa tumor dan mempertahankan fungsi rreproduksi. Ini berarti
bahwa terapi pertamanya (first line treatment) adalah sitostatika saja, tanpa
disertai operasi atau radiasi. Ini berarti bahwa pemberian kemoterapi saja pada
kasus Kr, hanya dapat dilakukan bila diagnosisnya dibuat berdasarkan PA yang
bukan berasal dari hasil histerektomi,
misalnya hasil kuretase atau biopsi.
Pada
dasarnya kemoterapi diberikan pada semua kasus Kr, tidak tergantung kepada
stadium maupun skor prognostik. Bila yang menjadi tujuan utama adalah untuk
mempertahankan fungsi reproduksi, kemoterapi sebaiknya diberikan pada kasus
seperti tersebut dibawah ini.
a. Wanita
muda dengan paritas rendah, atau yang masih menginginkan anak.
b. Besar
uterus dibawah 14 minggu
c. Tidak
ada tanda-tanda perforasi atau ancaman perforasi
d. Protokol
terapi disesuaikan menurut skor faktor risiko figo.
FIGO Risk Factor Scores
Figo Scoring
|
0
|
1
|
2
|
4
|
Age
|
40
|
>40
|
||
Andecendent pregnancy
|
HM
|
Abortion
|
Term
|
|
Interval (months)
|
<4
|
4-6
|
7-12
|
>12
|
Pre Th/ hCG (mlU/ml)
|
<103
|
103-104
|
>104-105
|
>105
|
Largest tumour size, including uterus
|
3 – 4 cm
|
5 cm
|
||
Site of metastases
|
Spleen/kidney
|
Gl tract
|
Brain/ liver
|
|
Number of metastases identified
|
0
|
1 - 4
|
5 – 8
|
>8
|
Previous failed chemotherapy
0 - 6 = low risk
≥ 7 = high risk
|
Single drug
|
Two or more drugs
|
Diadakannya
pembatasan dalam besarnya uterus, karena berdasarkan pengalaman pada uterus
yang besar, sering kali disertai dengan Skor Prognostik yang tinggi, sehingga
kemoterapi yang digunakan harus lebih banyak (multiple agents), lebih lama,
dengan efek samping yang lebih berat. Di samping itu, biayanya akan lebih
mahal, padahal sebagian besar penderita Kr berasal dari golongan masyarakat
dengan status ekonomi rendah.
Di
atas telah diterangkan bahwa protokol terapi TTG, termasuk Kr, tidak ditentukan oleh jauhnya
penyebaran penyakit (stadium), melainkan oleh skor prognostik. Hal ini
disebabkan oleh kenyataan bahwa banyak kasus Stadium I yang mempunyai skor yang
tinggi. Misalnya, Kr yang didahului oleh kehamilan aterm, umur 45 tahun, dengan
massa laten 2 tahun, tanpa metastasis diparu- paru (stadium III), tetapi
skornya rendah, seperti yang terjadi pada wanita muda yang didahului oleh MHK,
massa laten 5 bulan dan kadar β-hCG hanya 104 mlU/ml.
Skor
Prognostik, pertama kali dibuat oleh WHO scientific
Group, pada tahun 1983, sekarang digunakan kriteria FIGO dengan nama FIGO Risk Factor Scores.
Operasi
Operasi
bukan merupakan terapi utama pada Kr, melainkan hanya merupakan ktindakan
ajuvan saja, karena pada prinsipnya kita ingin mempertahankan fungsi
reproduksi. Tetapi, kadang-kadang operasi tidak bisa dihindarkan, terutama
kalau bersifat life saving.
Indikasi
:
Kapan
kita harus melakukan operasi? Pertanyaan ini tidak selalu mudah dijawab, karena
kalau dilakukan operasi, terutama jenis histerektomi, berarti penderita akan
kehilangan fungsi menstruasi dan hamil,
padahal seperti kita ketahui, banyak penderita Kr yang masih muda dengan
paritas rendah. Di samping itu, masih banyak masyarakat yang menganggap bahwa
wanita tanpa rahim, derajat kewanitaannya berkurang, sehingga bisa mengganggu
kerukunan suami istri. Sehubungan dengan itu, tindakan operasi histerektomi,
sebaiknya dilakukan berdasarkan indikasi :
1.
indikasi absolut
a. Perdarahan
per vaginam yang tidak terkontrol secara medikamentus
b. Perforasi
uterus, terutama bila disertai akut abdomen
2.
Indikasi relatif
a. Uterus
lebih besar dari 14 minggu
b. Ancaman
perforasi uterus, berdasarkan gambar usg
c. Kemoterapi
gagal
d. Jumlah
anak cukup
Perlu
diketahui bahwa jenis operasi pada Kr bukan satu-satunya histerektomi. Pada
keadaan di mana masa tumor di uterus itu tidak terlalu besar, soliter, dan
letaknya dan berkapsul yang jelas, dapat dipikirkan untuk melakukan reseksi
parsial uterus, terutama bila wanita masih menginginkan fungsi reproduksinya.
Jenis
operasi lain yang bisa dilakukan pada penderita Kr ialah eksterpasi metastasis di vulva/vagina, lobektomi atau kraniotomi untuk metastasis di
paru-paru dan otak yang resisten terhadap kemoterapi.
Tujuan operasi itu adalah untuk:
a. Mengontrol
perdarahan,
b. Mengurai
atau menghilangkan massa tumor, dan
c. Mengurangi
kompresi terhadap organ, misalnya di otak.
Apapun
jenis operasinya, selalu harus diikuti dengan pemberian kemoterapi. Harus
diingat bahwa Skor Resiko sesudah operasi, selalu lebih rendah dari perhitungan
sebelumnya, khususnya untuk unsur besar massa
dan kadar β-hCG.
Soper
mengatakan bahwa tindakan histerektomi masih mempunyai tempat pada TTG. Dia
membaginya menjadi dua risiko rendah yang sudah tidak memerlukan lagi fungsi
reproduksinya.
Di
RSHS, peranan histerektomi pada TTG masih tinggi karena bagian , yaitu
histerektomi primer, bila dilakukan sebelum pemberian kemoterapi pertama
dianggap gagal. Histerektomi primer akan lebih berhasil bila dilakukan pada
golongan banyak di antara merekan datang dalam keadaan lanjut. Pada periode
1995-1999, ditemukan 164 kasus TTG, terdiri dari 111 PTD, II Ml, 41 Kr, dan 1
kasus PSTT. Jadi, pada seri ini, tindakan histerektomi dilakukan pada 33,1%
TTG, 25% diantarnya kasus Kr. Sebagian besar dari operasi ini bukan merupakan
keinginan, melainkan karena keterpaksaan, antara lain, 16 diantatranya disertai
perforasi uterus. Padahal banyak diantara wanita tersebut yang masih memerlukan
fungsi reproduksi.
Melihat
kenyatan tersebut, sudah seyogianya para SpOG kita dibekali dengan pengetahuan
dan keterampilan yang cukup untuk menghadapi kasus-kasus darurat yang
memerlukan tindakan life saving.
Disamping
histerektomi,, masih ada keterampilan yang harus dikuasi oleh para SpOG, yaitu
tindakan eksterpasi pada metastasis vulva/vagina.
Sepert
telah disebutkan sebelumnya, bentuk metastasis di daerah ini sangat bervariasi,
mulai dari metastasis tunggal sampai multipel, bertangkai atau berdasar lebar,
dan berdarah atau tidak berdarah. Karena sering terjadi perdarahan banyak,
sebelum tindakan harus ada persediaan darah yang cukup.
Cara
eksterpasi yang umum dilakukan adalah dengan membuat pullstring ligation pada dasar tangkai, baru kemudian memotong
tangkai tersebut, di atas ikatan tadi. Cara ini banyak berhasil pada kasus
dengan tangkai yang tidak terlalu besar, seperti pada Gambar 3.2, serta
hubungannya dengan dinding vagina tidak
terlalu erat.
Teknik
operasi seperti di atas akan sukar dilakukan pada metastasis vagina yang
berdasar lebar. Dalam hal ini sebaiknya mukosa vagina di atas massa tumor
dibuka, lalu massa tersebut dikeluarkan secara digital. Setelah perdarahan
dirawat, mukosa di vagina ditutup kembali. Hati-hati dengan perdarahan, karena
banyak metastasis berdasar lebar yang disertau vaskularisasi yang berlebihan.
Karena itu, setelah tindakan eksterpasi selalu harus dipasang tampon vagina
selama 24 jam. Bila setelah dibuka masih ada perdarahan, pemasangan tampon
dapat diulang sesuai dengan kebetuhan.
Ada
kalanya letak metastasis terlalu tinggi untuk dapat dicapai dari bawah,
terutama kalau letaknya di forniks.
Dalam
keadaan ini, dapat ditempuh dua alternatif. Pertama, bila tidak disertai
perdarahan, pengobatannya diberikan kemoterapi yang sesuai. Kedua, bila
disertai perdarahan, terutama bila banyak, di samping kemoterapi, sebaiknya
dipasang tampon vagina yang diganti tiap 48 jam sekali, sampai perdarahan
teratasi, ditambah dengan antibiotik untuk mencegah infeksi.
Weed
et al, mengatakan bahwa pada metastasis di otak, tindakan kraniotomi mungkin
diperlukan untuk mengurangi tekanan (acute
decompresson)dan mengatasi perdarahan. Operasi tersebut harus dilakukan
untuk mencegah komplikasi yang dapat membahayakan jiwa, dengan harapan bahwa
penderita pada akhirnya dapat diselamatkan dengan pemberian kemoterapi.
Jenis
operasi lain yang kadang-kadang dianjurkan adalah torakotomi pada metastasis di
paru-paru yang resisten, atau eksisi atau reseksi hepar untuk mengontrol
perdarahan.
Radiasi
Radioterapi
banyak digunakan pada stadium IV dengan metastasis di otak. Begitu diagnosis
ditegakkan, “ whole brain irradition”,
dengan dosis 3000 cGy, harus segera diberikan. Dosis tersebut diberikan dalam
10 kali fraksi.
Untuk
mengurangi risiko terjadinya perdarahan spontan, sebaiknya radiasi diberikan
bersama-sama kemoterapi, karena radiasi dapat diberikan bersama-sama
kemoterapi, karena radiasi dapat berfungsi hemostatika dan tumorisidal.
Radioterapi
juga digunakan pada metastasis vagina dengan perdarahan yang tidak terkontrol
oleh tindakan operasi maupun kemoterapi.
|
PERHATIAN
1.
Setelah operasi atau radiasi, penderita masih harus
diberi kemoterapi sesuai dengan kebutuhan
2.
Skor faktor risiko pascaoperasi = skor preop – (β-hCG
lama + massa tumor) + β-hCG baru
|
2.2.6 Prognosis
Kr merupakan varian TTG yang paling ganas. Tiga
samapi emapt dekade yang lalu, wanita yang menderita penyakit ini hampir selalu
diikuti dengan kematian. Tetapi, sekarang di negara maju 90% dari kasus Kr
dapat diobati secara tuntas. Keadaaan ini dapat dicapai terutama berkat
ditemukannya kemoterapi yang efektif dan tersedianya cara pengukuran β-hCG yang
sangat sensitif, baik untuk diagnostik maupun untuk pemantauan paskakemoterapi.
Disamping itu, didukung oleh adanya manajemen yang efektif dan efisien, berupa
organisasi Trophoblastic Centeri. Walaupun
demikian, untuk kasus-kasus yang diserati metastasis jauh dari multipel,
seperti ke otak dan hepar, angka kematiannya masih tinggi.
Keberhasilan yang dicapai oleh negara maju itu,
belumbisa dinikmati oleh negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. RSHS
sampai sekarang belum berhasil mengobati kasus-kasus yang disertai dengan
metastasis otak. Yang terlama hanya
dapata bertahan beberapa bulan paskakraniotomi dan kemoterapi.
RSHS (Rumah Sakit dr. Hasan Sadikin) sampai sekarang
belum bisa memberikan angka kematian (mortality rate) Kr yang sesungguhnya,
karena banyak kasus yang minta pulang
paksa, dengan alasan sudah tidak ada harapan lagi (stadium terminal) atau karena
tidak mempunyai biaya. Mereka ini kemudian meninggal di rumah dan kematiannya
tidak tercatat.
Yang diketahui adalah jumlah kematian kasus Kr yang
terjadi selama dirawat, atau case fatality rate, yaitu sebesar 20,7%. Jadi,
mortalitas sesungguhnya, jauh lebih besar.
Dengan keberhasilan kemoterapi ini, makin banyak
wanita muda yang secara potensial akan dan mau hamil lagi. Walaupun demikian,
mereka ini masih dibayang-bayangi dengan dua pertanyaan penting, yaitu pertama,
bagaimana derajat kesuburannya setelah mendapat kemoterapi, apakah tetap atau berkurang.
Kedua, bila mereka berhasil bisa hamil, bagaimana proses serta hasil
kehamilannya.
Tampaknya pertanyaan pertama tidak perlu dicemaskan,
karena sebagian besar bisa segera hamil. Yang dikhawatirkan para pakar adalah
bahwa sebagian besar kemoterapi, bersifat mutagenik dan teratogenik, sehingga dapat berpengaruh
terhadap ovum atau bayi yang dikandung.
Methotrexate misalnya, dapat ditahan dalam tubuh binatang dan manusia sampai 8
bulan.
Beberapa penelitian tentang “kinerja reproduksi“
(reproductive performannnce) dari wanita-wanita paska kemoterapi telah
dilakukan, antara lain Van Thiel, Pastorfide,dan Goldstein hanya melaporkan
adanya peninggian fetal wastage, walaupun nilainya secara statistik tidak
bermakna.
2.2.7
Peran Bidan
Peran
bidan dalam penatalaksanaan PTG Koriokarsinoma terutama menegakkan diagnosis
kemungkinan, dan selanjutnya dapat melakukan rujukan untuk mengetahui diagnosis
pasti. Bidan bisa memberikan terapi agar pasien tidak mengalami syok dan mau untuk dirujuk serta
melakukan penanganan yang lebih akurat ditempat rujukan.
BAB
III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
1. Penyakit
trofoblas adalah penyakit yang mengenai sel-sel trofoblas. Di dalam tubuh
wanita sel trofoblas hanya ditemukan bila wanita itu hamil. Di luar kehamilan
sel-sel trofoblas dapat ditemukan pada teratoma dari ovarium, karena itu
penyakit trofoblas yang berasal dari kehamilan disebut sebagai Gestational
Trophoblastic Disease,sedangkan yang berasal dari teratoma disebut Non Gestational Trophoblastic Disease.
2. Koriokarsinoma
(Kr) adalah tumor ganas yang berasal dari jaringan yang mengandung trofoblas,
seperti lapisan trofoblas ovum yang sedang tumbuh, vili dari plasenta,
gelembung mola, dan emboli sel-sel trofoblas dimana saja di dalam badan.
3. Peran
bidan dalam penatalaksanaan PTG Koriokarsinoma terutama menegakkan diagnosis
kemungkinan, dan selanjutnya dapat melakukan rujukan untuk mengetahui diagnosis
pasti.
3.2 SARAN
Dengan
penulisan makalah ini penulis berharap agar tenaga medi kesehatan dan khususnya
bidan mampu meningkatkan mutu pelayanan kebidanan di Indonesia dalam menghadapi
masalah penyakit trofoblas gestasional kariokarsinoma.
DAFTAR PUSTAKA
Wiknjosastro,Hanifa, dkk.
1997. Ilmu Kebidanan Edisi Ketiga Cetakan
Keempat.
Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Martaadisoebrata,Djamhoer.
2005. Buku pedoman pengelolaan penyakit
trofoblas gestasional. Jakarta: EGC.
LAMPIRAN













Tidak ada komentar:
Posting Komentar